Lelaki & Rembulan (Franky S)

Jam di masjid sudah menunjukkan pukul 18:15, lelaki tua itu pun mulai beranjak dari duduknya dengan perlahan, setelah menunaikan ibadah salat Magrib. Aku melihatnya dari arah shaf belakang.Uwa Ajin, orang biasa memanggilnya dengan panggilan itu. Usianya sekitar 70-an, dia adalah seorang pengurus masjid di sekitar rumahku, tepatnya Beliau adalah seorang “marbot”, panggilan untuk orang yang biasa mengurus/memelihara kebersihan masjid.

Dengan kondisi badan yang sudah tidak muda lagi, Uwa Ajin selalu berusaha untuk menunaikan salat lima waktu di masjid Al Ikhlas, masjid yang selama ini Beliau jaga kebersihannya dengan baik. Walaupun sekarang Beliau sudah tidak ‘bertugas’ lagi, mengingat usianya yang sudah cukup tua, dan karena kondisi kesehatannya, maka pihak DKM Al Ikhlas menugaskan Bang Oman, untuk menggantikannya. Keinginan Uwa Ajin untuk selalu menunaikan salat lima waktu di masjid kami bukanlah hal yang mudah, karena jarak rumahnya dengan masjid +/- 500 M. Itupun dengan kondisi jalan yang menanjak. Belum lagi kondisi kesehatannya yang kurang baik.Untuk berjalan saja, sebuah tongkat yang berasal dari pegangan payung yang sudah tidak terpakai lagi selalu setia menemaninya. Sungguh sebuah perjuangan yang tidak mudah.

Setiap setelah salat Jum’at, kadang aku menyempatkan diri untuk melihat keberadaan Uwa Ajin. Biasanya Beliau salat pada shaf paling depan di bagian selatan masjid kami. Aku pernah mengatakan kepadanya, untuk salat di bagian shaf belakang saja, karena jika selesai salat, untuk mencapai shaf belakang saja, itu harus dilakukan dengan berjalan terpogoh-pogoh atau dengan bersandar pada dinding masjid yang ada, namun dengan berbisik ia menjawab bahwa lebih enak salat di shaf depan.

Malam itu, rembulan belum menampakkan sinarnya, masih redup, karena baru saja hujan turun dengan derasnya. Mungkin malam ini Uwa Ajin sudah terlelap dalam tidurnya. Jika mengingat salah satu hadits Nabi, tentang pemuda dan orang tua dalam beribadah, – bahwa Allah SWT mencinta orang tua yang rajin beribadah, namun lebih mencintai lagi anak muda yang rajin beribadah-, malu rasanya diri ini. Dalam usia yang masih boleh dibilang muda, kondisi badan masih sehat, waktu untuk melakukan ibadah pun banyak, namun sepertinya berat langkah kaki ini untuk melangkah…..

Uwa Ajin, terima kasih untuk teladan yang telah kau berikan kepadaku,… Semoga diri ini akan selalu mengikuti tauladanmu. Tidurlah dalam keremangan sinar rembulan yang mulai bersinar,….

Rembulan Di Malam Hari
Lelaki Diam Seribu Kata
Hanya MemanDang
Hatinya Luka Hatinya Luka
Hatinya Luka

Udara Terasa Berat
Karena Asmara Sesakkan Dada
Ketika Cinta Terbentur Dinding
Terbentur Dinding

Bukalah Hatiku Hatimu Yang Selalu Membeku
Agar ku Lihat Lagi Rembulan Di Wajahmu
Jangan Sembunyikan Hatimu Padaku

Lelaki Dan Rembulan
Bersatu Di Malam
Angin Sepoi-sepoi

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s